Rabu, 04 September 2013

cekcok tanda cocok (arguing that it matched)

Dua pribadi bisa menjadi satu adalah melalui kebaikan dan kasih; bukan dengan sikap egois dan ingin membalas (1Ptr 3:8,9). Dalam misteri percekcokan, Tuhan mengizinkan setiap orang menjadi sebuah lagu yang unik. Dan ketika tiba saatnya konser dimulai, mereka pun berpadu menjadi sebuah harmoni yang indah , maka untuk menjaga keselarasan dengan sesama selaraskanlah hidup kita dengan kristus, sehingga apabila hubungan sesama diwarnai konflik dan kepahitan, mintalah ampun kepada Tuhan, dan saling mengampuni!
Two individuals may be one is through the kindness and love, not with the selfish attitude and wants revenge (1 Peter 3:8,9). In the mystery of strife, God allows each person to be a unique song. And when it was time the concert started, they were combined into a beautiful harmony, and to ensure alignment with fellow adding them our lives with Christ, so that when the neighbor relationship tinged conflict and bitterness, ask God for forgiveness, and forgiving each other!

Selasa, 03 September 2013

Iman tanpa perbuatan adalah mati (Faith without works is dead)

Ada yang menganggap Injil sebagai suatu pernyataan iman belaka dan tidak hidup di dalamnya. Kita tidak cukup hanya sekadar mengenal kebenaran Injil dan berkata, "Tuhan, Tuhan" (Lukas 6:46"Mengapa kamu berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, padahal kamu tidak melakukan apa yang Aku katakan?). Sudahkah kita menghayati iman sungguh-sungguh, bukan sebagai suatu pernyataan belaka tetapi sebagai ungkapan kepercayaan yang sungguh kepada Tuhan Yesus, sehingga hubungan kita dengan Tuhan Yesus telah mendatangkan perubahan dalam hidup kita. Sebab, kekristenan tidak berarti apabila hal itu tidak mengubah karakter kita.
Some people regard the Gospel as a mere statement of faith and not live in it. We are not just enough to know the truth of the Gospel and said, "Lord, Lord" (Luke 6:46 "And why call ye me, Lord, Lord, 'and not do what I tell you?). Did we really living the faith indeed, not as a mere statement but as an expression of confidence that indeed the Lord Jesus, so that our relationship with the Lord Jesus has brought about a change in our lives. because Christianity does not mean if it does not change our character.

Minggu, 14 Agustus 2011

Pendidikan anak dimulai di dalam kandungan.

“Dan ketika Elisabet mendengar salam Maria, melonjaklah anak yang di dalam rahimnya dan Elisabet pun penuh dengan Roh Kudus”
(Lukas 1:41)


Tuhan sudah mengenal kita sebelum kita berada di rahim ibu, maka calon orang tua sudah dapat mempersiapkan segala sesuatu melalui doa untuk kehadiran sang anak. (Yeremia 1:5 "Sebelum Aku membentuk engkau dalam rahim ibumu, Aku telah mengenal engkau, dan sebelum engkau keluar dari kandungan, Aku telah menguduskan engkau, Aku telah menetapkan engkau menjadi nabi bagi bangsa-bangsa.")
 Kami sudah menikah lima tahun yang lalu barulah tahun 2008, bulan April, isteri saya mengandung. Kehadiran si anak sudah empat tahun yang lalu kami harapkan dan kami sudah menamakan anak itu ‘Syema’ Kami senantiasa berdoa dan tidak mau menerima tawaran dunia ini, baik itu ke tukang urut sekalipun. Karena kami percaya indahnya waktunya Tuhan (Pengkotbah 3:11a “Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya, bahkan Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka.”)

Tuhan menenun anak semasa di dalam kandungan (Mazmur 139:13 “Sebab Engkaulah yang membentuk buah pinggangku, menenun aku dalam kandungan ibuku”). Penenun anak adalah ajaib dan kudus, sehingga pada mulanya anak di dalam kandungan tidaklah dalam keadaan berdosa seperti yang tertulis dalam Mazmur 51:7 “Mazmur “Sesungguhnya, dalam kesalahan aku diperanakkan, dalam dosa aku dikandung ibuku”.

Penenunan seorang anak di dalam kandungan adalah suatu muzijat yang diperbuat Tuhan. Mujizat itu terjadi dengan sangat perlahan, sehingga kita menganggapnya biasa saja, karena setelah sembilan bulan kemudian barulah lahir seorang anak.

Tuhan dapat membuat muzijat itu seketika, sehingga orang akan takjub, tetapi Tuhan memilih untuk melakukannya secara perlahan, maka hanya seorang ibu yang dapat merasakannya. Si ibu merasakan gerakan-gerakan anak di dalam dirinya, si ibu memberi makanan yang lembut dan lunak. Jadi, hanya si ibu yang merasakan penenunan yang diperbuat oleh Tuhan.

Si bapak mendapatkan kesempatan untuk merasakan gerakan sang anak dari luar, memberi makan ibu sang anak dan membantu kelahiran sang anak. Selama sembilan bulan si bapak mengenal anak dari jauh, tetapi si ibu mengenalnya dari lubuk hati, karena di dalam rahimnya si anak hidup, bergerak dan bertumbuh, apa yang dimakan si ibu, si anak ikut memakannya, kemanapun si ibu pergi, maka si anak pun ikut serta.

Sungguh sangat besar peranan ibu di dalam mempersiapkan kelahiran sang anak. Banyak hal yang harus dipersiapkan untuk menerima kehadiran seorang anak, tidak hanya sebatas mempersiapkan ruangan dalam rumah, tetapi juga menyiapkan ruangan dalam hati. Tentu saja ini memerlukan waktu.

Sembilan bulan adalah waktu yang lama untuk dinyatakan sebagai suatu muzijat. Selama sembilan bulan, Tuhan mempersiapkan seorang anak bagi kedua orang tuanya dan juga mempersiapkan kedua orang tua bagi anaknya.

Sebab itu patutlah pendidikan anak itu dilakukan semasa ia di dalam kandungan, bagaimana mungkin itu bisa terjadi, pikir kita!. Tetapi kalau kita merenungkan firman Tuhan dalam Lukas 1:41 (“Dan ketika Elisabet mendengar salam Maria, melonjaklah anak yang di dalam rahimnya dan Elisabet pun penuh dengan Roh Kudus”), maka kita mengetahui bahwa semasa anak dalam kandungan, anak itu sudah dapat menanggapi suara dari luar. maka, si anak sudah dapat berhubungan bathin dengan dunia luar, terutama dengan ibunya.. Suasana hati si anak tergantung dari situasi hati si ibu.

Kalau si ibu suka termenung, maka si anak juga akan suka termenung, kalau si ibu mudah sakit hati, maka si anak juga mudah sakit hati. Demikianlah seterusnya, apa yang dialami ibu akan cendrung dialami si anak setelah ia lahir. Oleh karena itu, orang tua mempunyai peranan penting untuk menjadikan anak itu dikemudian hari, anak yang takut akan Tuhan atau anak yang suka memberontak.

Sungguh luar biasa kalau kita mau mendidik anak semasa di dalam kandungan, karena kita dapat berbicara dengan anak itu, maka pendidikan yang diterima si anak akan lebih mudah, hal itu bisa saja terjadi! Sebab itu, “Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan: roh memang penurut, tetapi daging lemah." (Mat. 26:41).

Si anak yang dikandungan sudah memiliki roh, maka pendidikan kepada anak sudah dapat dilakukan, si anak akan mudah diajari sebab ‘roh’ itu penurut. Setiap orang yang penurut akan mudah diajari, dibentuk oleh siapapun. Kalau orang tuanya tidak baik, maka setelah anak itu lahir, dia akan condong melakukan yang tidak baik, karena si anak sudah terbiasa mendengarkan hal-hal yang tidak baik. Demikikanlah sebaliknya, kalau orang tuanya biasa berbicara yang baik dan melakukan yang baik, maka setelah lahirnya si anak, si anak akan mudah diarahkan kepada hal-hal yang baik. Sebab iman itu timbul dari pendengaran akan firman Tuhan (Roma 10:17 “Jadi, iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus”).
 Setelah isteri saya mengandung, kami sudah mengikut sertakan anak dalam kandungan didalam kami berkomunikas dan beraktifitas, kami sudah memanggilnya dengan nama: Syema.

Setelah kami mengetahui Tuhan mengaruniakan seorang anak kepada kami, maka kami mengadakan syukuran dengan tetangga atas ulang tahun pernikahan kami yang ke-5 dan sekaligus atas hadirnya seorang anak yang berumur 7 minggu di rahim ibunya. Orang terkejut karena ‘tabu’ membicarakan anak yang masih di dalam kandungan, apa lagi usia dini, nanti bagaimana kalau terjadi keguguran, maka muncullah ketakutan untuk membicarakannya kepada orang lain. Bahkan ada nasehat “ jangan terlalu gembira dan diketahui orang, biasa-biasa sajalah”.

Suatu kepastian yang kami dapatkan dari Firman Tuhan bahwa anak itu hidup (bnd.Lukas 1:41), maka kami tidak ragu menyatakan namanya adalah Syema (bahasa Ibrani, yang arti dengarlah). Kami dengan sukacita mengabarkan, karena kami tahu pasti yang dijanjikan oleh Tuhan (bnd. Markus 16:20), karena kehadiran Syema di dalam rumah tangga kami adalah kesempatan kami menceritakan perbuatan-perbuatan Tuhan (bnd. Mazmur 118:17).

Ketika ada muncul ketakutan, maka kami ingat Firman Tuhan: “Waktu aku takut, aku ini percaya kepada-Mu” (Mazmur 56:4). Maka kami selalu mendapatkan ketenangan, karena kami datang kepada Yesus (Matius 11:28-29 “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan”).
 Pada bulan Juli, tanggal 3, isteri saya mengalami pendarahan. Kami mengajak Syema berdoa, dan berkata kepada Syema yang dikandungan:”Tuhan Yesus memberkatimu Syema, kamu tidak apa-apa, walaupun mama mengalami pendarahan, karena Tuhan Yesus memberkatimu.

Kita meyakini bahwa Tuhan turut bekerja dalam segala hal, untuk mendatangkan kebaikan bagi kita yang percaya Tuhan Yesus, yaitu bagi kita yang terpanggil sesuai dengan rencana Tuhan.(Roma 8:28). Sehingga walaupun ada ancaman melalui pendarahan, kita tetap percaya akan rancangan Tuhan, yaitu rancangan damai sejahtera (Yeremia 29:11 “Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.”)
 Setelah mengetahui pendarahan kami langsung ke Rumah Sakit, pada waktu pemerikasaan melalui USG, isteri saya ingat akan Firman Tuhan: “Aku tidak akan mati, tetapi hidup, dan aku akan menceritakan perbuatan-perbuatan TUHAN” (Mazmur 118:17). Setelah dilihat di USG, dokter heran ketika dikatakan telah terjadi pendarahan, karena keadaan anaknya baik. Setelah diteliti, ternyata ada bercak darah pada plasenta sang anak. Maka si ibu disuruh istirahat selama 2 minggu.
Peristiwa pendarahan itu menjadi suatu pertanda bagi kami, bahwa Tuhan membuktikan penyertaanNya (Markus 16:20 “Mereka pun pergilah memberitakan Injil ke segala penjuru, dan Tuhan turut bekerja dan meneguhkan firman itu dengan tanda-tanda yang menyertainya..“), memberitakan Injil, bukan hanya berkotbah, tetapi menunjukkan diri kita sebagai orang yang percaya, sehingga kemanapun pergi, kami tidak takut dan kami selalu mengikutsertakan Syema. Kami berbicara dengan Syema setiap kali kami beraktifitas, terlebih-lebih ketika kami naik Honda, karena kami akan bertemu dengan jalan yang tidak bagus sehingga terjadi benturan-benturan.

Setelah isteri saya mengalami pendarahan dan karena keadaan rambut membuat dia kepanasan, maka dia memotangkan rambutnya, tetapi ada yang menasehati, bahwa kalau sedang hamil tidak boleh memotong rambut. Kami tidak mempercayai dogeng itu karena firman Tuhan dalam 1 Timoius 4:7-8 “Tetapi jauhilah takhayul dan dongeng nenek-nenek tua. Latihlah dirimu beribadah.Latihan badani terbatas gunanya, tetapi ibadah itu berguna dalam segala hal, karena mengandung janji, baik untuk hidup ini maupun untuk hidup yang akan datang.”)

Pembahasan pendidikan anak semasa di kandungan, bukanlah teori belaka, penulis sudah pernah menyampaikan kebenaran firman Tuhan ini kepada keluarga yang baru menikah dan isterinya sedang mengandung, anak dikandungan itu sudah diajak berdoa, mendengarkan firman Tuhan. Puji Tuhan, setelah anak itu lahir, walaupun dia masih bayi, ketika dia diajak berdoa, dia sudah menunjukkan sikap berdoa, ketika si anak dibacakan firman Tuhan, maka si anak menunjukkan sikap orang yang mendengarkan firman Tuhan. Demikian juga kita sudah biasa mendengar, jika semasa dikandungan, si ibu itu suka bernyanyi, maka anak itu menjadi suka bernyanyi dsb.
Keluhan yang banyak kita dengar, si anak sudah di doakan, tetapi dia tetap menunjukan pemberontakan. Karena semasa di kandungan, anak itu pernah mau digugurkan dengan berbagai alasan, maka setelah anak lahir, dia tidak mempunyai hubungan yang baik dengan orang tuanya, keinginan si anak selalu memberontak. Atau keluarga itu lama mendapatkan anak, sehingga berbagai cara dilakukan, seperti ke dukun, ziarah di kuburan dll.

Iblis tidak pernah mampu meberikan anak, karena semua anak adalah pemberian Tuhan. Yang terjadi adalah penipuan yang dilakukan iblis, karena dia adalah penipu dari mulanya (Yohanes 8:44 “Iblislah yang menjadi bapamu dan kamu ingin melakukan keinginan-keinginan bapamu. Ia adalah pembunuh manusia sejak semula dan tidak hidup dalam kebenaran, sebab di dalam dia tidak ada kebenaran. Apabila ia berkata dusta, ia berkata atas kehendaknya sendiri, sebab ia adalah pendusta dan bapa segala dusta”). Semua yang terjadi adalah karena indahnya waktunya Tuhan (Pengkotbah 3:11a). jadi, anak adalah anugerah Tuhan, sehingga tidak mungkin Tuhan memakai perantaraan dukun, karena dukun adalah kejijikan dihadapan Tuhan (Yehezkiel 13:18a “Katakanlah: Beginilah firman Tuhan: Celakalah dukun-dukun perempuan, yang mengikatkan tali-tali azimat pada semua pergelangan dan mengenakan selubung pada kepala semua orang, tua atau muda, untuk menangkap jiwa orang”). Dan tidak mungkin memakai perantara orang mati di kuburan (Imamat 20:6 “Orang yang berpaling kepada arwah atau kepada roh-roh peramal, yakni yang berzinah dengan bertanya kepada mereka, Aku sendiri akan menentang orang itu dan melenyapkan dia dari tengah-tengah bangsanya”)
Keluarga yang lama mendapatkan anak akan menghalalkan segala cara, seperti pergi ke dukun, maka mereka mendapat anak, sehingga dukun dianggap sebagai perantara Tuhan. Maka anak itu mempunyai tingkah laku yang tidak berkenan dihadapan Tuhan. Sebab iblis berhasil menyesatkan mereka, karena itu adalah pekerjaan iblis (Wahyu 12:9 “Dan naga besar itu, si ular tua, yang disebut Iblis atau Satan, yang menyesatkan seluruh dunia, dilemparkan ke bawah; ia dilemparkan ke bumi, bersama-sama dengan malaikat-malaikatnya”)

Oleh karena itu, keluarga yang sudah lama merindukan anak dan akhirnya dapat anak setelah mereka ke dukun (Yehezkiel 13:18a), ke kuburan (Imamat 20:6). Segeralah bertobat, karena akan mengalami kesusahan dikemudian hari, minta ampunlah segera (1 Yohanes 1:9 “Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan”), maka kerinduan hati untuk keluarga bahagia akan menjadi kenyataan.

Kamis, 28 Juli 2011

karunia-karunia roh

“…janganlah percaya akan setiap roh, tetapi ujilah roh-roh itu…” (1 Yoh.4:1)

Kita diharuskan menguji segala sesuatu, apakah segala sesuatu itu berasal dari Tuhan atau dari Iblis, karena tidak setiap orang yang mengaku berbicara dalam roh dapat dipandang sebagai orang yang mengatakan kebenaran, karena cara kerja yang dipakai Iblis adalah menyamar atau meniru. Sebab itu pengujian harus dilakukan, supaya tipu daya Iblis tidak dapat mengganggu kita. Waspadalah karena Iblis dapat menyamar sebagai malaikat terang (2 Kor.11:14 “Hal itu tidak usah mengherankan, sebab Iblis pun menyamar sebagai malaikat Terang”).

Karunia-karunia roh juga dapat ditiru oleh iblis, supaya orang percaya itu disesatkan, karena iblis adalah penyesat dari mulanya. Iblis menjadi penyesat setelah kalah dalam peperangan dalam alam roh (Why 12:7-9). Namun Iblis tidak merasa kalah, maka Iblis mencoba membuat strategi untuk membuat manusia menjadi temannya untuk memberontak. Sehingga Iblis berusaha untuk menyamar sebagai mesias-mesias palsu dan nabi-nabi palsu untuk menyeret manusia ke dalam keseSatan, bahkan orang pilihan Tuhan juga (Mat.24:23-24). Maka celakalah dunia dengan segala penyesatannya: memang penyesatan harus ada, tetapi celakalah orang yang mengadakannya (Mat.18:7). Waspadalah!

Oleh karena itu, kita dituntut untuk waspada terhadap penyesatan yang dilakukan oleh Iblis. Kita diajar untuk menguji segala sesuatu, supaya kita tidak jatuh ke dalam perangkap yang dibuat oleh Iblis. Iblis adalah suatu pribadi pendusta (Yoh.8:44), penghianat dan pemberontak. Iblis datang, bukanlah dalam ujudnya yang asli, melainkan dengan menyamar sebagai orang yang sudah meninggal (Yes.26:14), padahal tidak ada lagi hubungan antara yang hidup dengan yang mati (Ayb.7:9-10). Bahkan Iblis juga menyamar sebagai malaikat terang, supaya orang yang punya pengalaman supranatural (alam roh) percaya terhadap roh yang diterimanya, tanpa terlebih dahulu mengujinya. Maka mereka percaya kepada setiap perkataan yang keluar dari orang yang telah disamarkan itu. Orang yang disamarkan itu adalah pelayan Iblis, karena pelayan Iblis juga menyamar sebagai pelayan kebenaran, mereka menampakkan diri sebagai melayani perkembangan Injil, tetapi untuk maksud-maksud lain (2 Kor.11:15 “…pelayan-pelayan Iblis menyamar sebagai pelayan-pelayan kebenaran…”).

Maka kita juga harus waspada terhadap pengobatan alternatif (non medis), karena Iblis dapat membuat tanda muzijat palsu melalui pelayannya (2 Tes.2:9-10 “Kedatangan si pendurhaka itu adalah pekerjaan Iblis, dan akan disertai rupa-rupa perbuatan ajaib, tanda-tanda dan mujizat-mujizat palsu, dengan rupa-rupa tipu daya jahat terhadap orang-orang yang harus binasa karena mereka tidak menerima dan mengasihi kebenaran yang dapat menyelamatkan mereka” ).

Kita dapat menguji segala sesuatu dengan membandingkannya dengan yang tertulis dalam Sabda TUHAN. Maka kita tetap juga dituntut untuk waspada, walaupun ada tertulis dalam Injil. Karena Iblis juga mencoba membelokkan makna dari Sabda TUHAN. Hal ini dapat kita lihat bagaimana Iblis menggoda Yesus Anak Manusia di padang gurun (Mat.4:1-11).

Yesus Anak Manusia dicobai Iblis dengan mengutip Sabda TUHAN, dengan mengatakan ada tertulis. Maka Yesus Anak Manusia menjawab juga dengan ada tertulis. Karena ada tertulis yang disampaikan oleh Iblis itu sudah dimanipulasi untuk kepentingannya. Dan ada tertulis yang disampaikan oleh Yesus adalah untuk menolak pemahaman Iblis dan menyampaikan kebenaran TUHAN.

Oleh karena itu setiap orang yang ingin memahami Sabda TUHAN harus memahaminya berdasarkan apa yang TUHAN kehendaki. Kita memahami Sabda TUHAN dengan bimbingan Roh Tuhan, bukan hanya berdasarkan penafsiran atau pengalaman spiritual orang lain. Kita juga dapat mengalami pengalaman spiritual bersama TUHAN, karena sampai saat ini TUHAN mengetuk hati manusia, supaya manusia mempunyai pengalaman rohani bersama TUHAN (Why 3:20 “Lihat, Yesus berdiri di muka pintu dan mengetok, jikalau ada orang yang mendengar suara Yesus dan membukakan pintu, Yesus akan masuk mendapatkannya dan Yesus makan bersama-sama dengan dia, dan ia bersama-sama dengan Yesus”).

Sebab segala tulisan yang diilhamkan itu bermamfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran (2 Tim.3:16), karena Yesus adalah jalan dan kebenaran dan hidup (Yoh.14:6), maka segala sesuatu yang tertulis diperhadapakan dengan Sabda Yesus. Misalnya:
 Dalam Mat.9:35, Yesus menekankan tentang pengajaran dan memberitakan Injil Kerajaan Sorga sebagai prioritas (yang terutama), tetapi ada yang menekankan muzijat sebagai prioritas (bnd. Mat.6:33)
 Dalam 1 Kor.14:1, yang harus dikejar adalah kasih, tetapi ada yang menekankan harus mengejar bahasa roh (terjemahan yang sebenarnya: bahasa lidah dari bahasa Yunaninya: karena nubuat akan berakhir; bahasa roh akan berhenti; pengetahuan akan lenyap (1 Kor.12:8), hanya kasih yang tidak berkesudahan, sebab Yesus itu adalah kasih (bnd. 1 Yoh.4:8).

Karena ada yang menekankan harus mengejar bahasa lidah, maka ada penafsir yang mengutip Kis.19:6 “Dan ketika Paulus menumpangkan tangan di atas mereka, turunlah Roh Kudus keatas mereka, dan mulailah mereka berkata-kata dalam bahasa roh dan bernubuat”. Jadi, bukan karena Paulus menumpangkan tangan, maka mereka menerima Roh Kudus. Sebab Roh Kudus tidak bisa diatur manusia, tetapi Roh Kudus lah yang mengatur manusia setelah manusia mau dibaptis di dalam nama Tuhan Yesus (Kis.19:5). Pembaptisan di dalam nama Yesus, bukanlah masalah dibaptis secara ditengelamkan atau dipercikan dengan air, tetapi baptisan roh yang dilakukan oleh Yesus (Mat.3:11”Yohanes membaptis dengan air sebagai tanda pertobatan, tetapi Yesus yang datang kemudian dari pada Yohanes lebih berkuasa dari pada Yohanes dan Yohanes tidak layak melepaskan kasut Yesus. Yesus akan membaptiskan kamu dengan Roh Kudus dan dengan api”).

Baptisan roh dicapai dengan pembersihan rohani dari segala roh yang najis, seperti: percabulan, kecemaran, hawa nafsu, penyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan, roh pemecah, kedengkian, kemabukan, pesta pora (Gal.5:19-21). Pembersihan itu dilakukan dengan mengaku dosa dihadapan TUHAN (1 Yoh.1:9 “Jika kita mengaku dosa kita, maka Yesus adalah setia dan adil, sehingga Yesus akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan”).
Setanlah yang mencemari rohani kita, sehingga kita mempunyai prilaku yang bertentangan dengan keinginan TUHAN. Setan dapat mencemari rohani kita, karena kita melakukan dosa. Maka kita harus mengaku dosa, supaya kita dimampukan TUHAN untuk melakukan yang berkenan dihadapan TUHAN. Prilaku yang berkenan dihadapan TUHAN, seperti: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri (Gal.5:22-23).

Setelah kita mengalami kekudusan, barulah kita bisa memggunakan kuasa yang diberikan TUHAN untuk mengalahkan keinginan daging yang sudah dicemari oleh Iblis. Pembersihan itu dengan memakai kuasa yang diberikan TUHAN kepada orang yang percaya di dalam nama Yesus (Yoh.1:12), karena warga Kerajaan Sorga lah yang mempunyai kuasa untuk mengusir setan-setan (Mat.12:28).

Pengenalan kita akan TUHAN adalah berdasarkan penyataan TUHAN dalam hidup kita. Setelah kita bergaul karib dengan TUHAN (Yak.4:6-7). Penyataan TUHAN dalam hidup kita adalah dasar kita untuk membuka penyamaran yang dilakukan oleh Iblis, karena kita sudah tunduk (taat) kepada TUHAN.
TUHAN itu adalah roh (Yoh.4:24) dan Iblis juga roh, maka haruslah dengan bimbingan Roh Tuhan kita dapat mengalahkan tipu daya Iblis, yaitu penyamaran yang dilakukan Iblis dari dulu sampai saat ini. Sebab Iblis adalah bapa segala pendusta.
Penulis pernah melayani:
 seorang ibu (Penulis sapa dengan namboru) yang mengalami gangguan rohani, beberapa kali dia tidak menyadari apa yang terjadi pada dirinya. Misalnya: ketika dia berada di ruang tamu, tanpa sadar dia sudah berada di kamar. Demikianlah yang dialami ibu itu berulangkali, membuat ibu itu tidak merasa tenang. Ibu itu mengaku percaya kepada TUHAN, dia rajin beribadah, namun dia tetap mengalami gangguan itu. Dan yang membuat ibu itu merasa bingung, dia bisa berbahasa lidah. Maka penulis mengajukan pertanyaan: ‘sejak kapan ibu bisa berbahasa lidah’. Ibu itu menyatakan dia bisa berbahasa lidah setelah dia ditumpangi tangan oleh pendeta, pada waktu KKR (Kebaktian Kebangunan Rohani), dan pada waktu itu dia rebah kebelakang dan ada yang menahannya. Ada beberapa saat dia tidak sadarkan diri, sewaktu dia rebah. Setelah rebah itulah dia bisa berbahasa lidah. Maka Penulis sampaikan 1 Ptr 5:8 “Sadar dan berjaga-jagalah! Lawannu si Iblis, berjalan keliling sama seprti singa yang mengaum-aum dan mencari orang dapat ditelannya.” Iblis hanya bisa menguasai orang kalau orang itu tidak sadar. Waktu ibu itu tidak sadar seketika itulah Iblis menyamar sebagai roh kudus, sehingga dia merasa bahwa dia sudah menerima Roh Kudus. Karena adanya penekanan gembala sidang bahwa orang yang menerima Roh Kudus akan berbahasa roh, maka setelah penumpangan tangan dia bisa berbahasa lidah, tanpa ada pengujian terhadap apa yang baru diterimanya. Padahal setiap orang yang menerima Roh Kudus mempunyai kuasa untuk menyampaikan kabar baik, memberitakan pembebasan kepada orang tawanan dan penglihatan kepada orang buta, membebaskan oran yang tertindas (Luk.4:18-19). Sewaktu kami berbicara, tiba-tiba ibu itu berubah sikap, kemudian Penulis bertanya: ada apa namboru, lalu jawab ibu itu: saya bukan namborumu (suaranya berubah), maka Penulis berkata: demi nama Yesus, siapa kau. Lalu katanya: ‘saya malaikat itu’, sambil menunjukkan gambar Yesus Anak Manusia yang berada di dinding. Pada waktu itu penulis ingat, bahwa malaikat TUHAN adalah roh yang melayani (Ibr 1:13-14), bukan mengganggu orang percaya, maka Penulis mempunyai kepastian bahwa malaikat itu adalah malaikat Iblis yang sedang menyamar sebagai malaikat terang, sehingga Penulis menggunakan kuasa: “demi nama Yesus, enyah engkau malaikat Iblis terang palsu” (Kis.16:18), setelah itu barulah ibu itu sadar.

 Seorang nona (Penulis sapa dengan ito). Pada waktu dijumpai dia baru mengalami kecelakaan, yaitu kakinya kena siram air panas. Pertanyaan Penulis: “tahukah ito kenapa kakinya yang kena air panas!” Sebab TUHAN turut bekerja untuk mendatangkan kebaikan bagi orang yang mengasihiNya (Roma 8:28). Maka nona itu menyatakan bahwa dia melayani di suatu gereja dengan melayani anak sekolah minggu. Pada waktu kecelakaan (tersiram air panas), dia tidak mengajar anak sekolah minggu, karena dia berjualan untuk memenuhi kebutuhannya, sebab dia merasa honornya di gereja tidak memadai. Sewaktu dia mengangkat ceret air yang berisi air panas, air panas itu tumpah mengenai kakinya. Ada beban pemikirannya; dia sudah mengambil keputusan untuk melayani TUHAN dan dia bisa berbahasa lidah, namun dia putusasa. Ternyata dia bisa berbahasa lidah, setelah menerima tumpangan tangan dari pendetanya. Setelah diadakan pengujian, akhirnya dia mengetahui bahwa bahasa lidahnya adalah palsu.

TUHAN mengerti semua bahasa, maka dengan bahasa apapun TUHAN dapat memahaminya. Hal itulah yang menginsafkan nona itu. Supaya dia berbicara didalam bahasa yang dia mengerti. Karena menurut ucapanmu engkau akan dibenarkan dan menurut ucapanmu pula engkau akan dihukum (Mat. 12:37). Di dalam bahasa lidah palsu, akan keluar kata yang sia-sia, bahkan bisa menghujat TUHAN, karena dia tidak mengerti apa yang diucapkannya. Waspadalah!

Ada terjemahan lain di dalam 1 Kor.14:2 “… Sebab tidak ada seorangpun yang mengerti bahasanya;…” Kata ‘mengerti’ diterjemahkan dari kata (bahasa Yunani), terjemahan lain untukadalah mendengar. Karena itu pengertian bahasa lidah dalam 1 Kor.14:4 adalah untuk membangun diri sendiri, bukan untuk di dengar orang lain, bahkan tidak disampaikan dalam pertemuan jemaat (bnd.1Kor.14:18-19).

Ada dua model jatuh setelah bertemu dengan Yesus, yaitu:
1. Ketika murid-murid bertemu dengan Yesus, maka tersungkurlah murid-murid dan Yesus mengatakan: “jangan takut”, serta Yesus meneguhkan hati murid-murid (Mat.18:6-7), sehingga mereka mengalami damai sejahtera. Yohanes tersungkur karena hadirat TUHAN (Why 1:17 ‘ketika Yohanes melihat Yesus, tersungkurlah Yohanes di depan kaki Yesus sama seperti orang yang mati; tetapi Yesus meletakkan tangan kananNya di atas Yohanes, lalu berkata Yesus:”janganlah takut! Aku adalah Yang Awal dan Yang Akhir”).
2. Di dalam Yoh.18:6 ‘Ketika Yesus berkata kepada mereka: ”Akulah Dia,” mundurlah mereka dan jatuh ke tanah.’ Kehadiran Yesus menimbulkan ketakutan bagi orang yang memusuhiNya. Ketakutan itu membuat mereka mundur dan jatuh ke tanah (dalam posisi telentang).

Umat TUHAN yang berada di dalam hadirat TUHAN akan bersujud, tersungkur atau telungkup dengan wajah ke bawah dalam sikap menyembah, sebagai tanda rendah hati dan penyerahan diri kepada Tuhan Yesus. Sebab setiap orang yang bersama Yesus akan segolongan dengan Yesus (Mat.12:30 ”siapa tidak bersama Yesus, ia melawan Yesus dan siapa tidak mengumpulkan bersama Yesus, ia mencerai-beraikan”). Berbeda dengan orang yang ditumpangi tangan pada KKR yang pernah Penulis perhatikan dan setelah Penulis melayani orang yang terganggu akibat tumpangan tangan (terpaan roh). Mereka jatuh atau rebah ke belakang dan seketika kehilangan kesadaran, serupa dengan sepasukan prajurit yang tidak sadar lagi kalau mereka sedang menghadapi Yesus Anak Manusia

Di dalam KKR yang pernah Penulis cermati, ada tiga bahagian yang terlibat, yaitu:
1. Hamba TUHAN, yang baru puas kalau menjatuhkan orang. Ketika Penulis memperhatikan orang yang ditumpangi tangan tidak jatuh, maka pendeta itu berusaha mendorong kepala orang itu supaya jatuh. Dan kalau orang itu berusaha menahan diri supaya tidak jatuh, maka pendeta berbisik: jatuhkanlah dirimu ada konselor dibelakang (pengakuan orang yang Penulis layani). Ada juga yang ditumpangi tangan langsung jatuh, walaupun tangan hamba Tuhan itu tidak menyentuh kepala orang. Hamba TUHAN, haruslah bisa memastikan apakah yang dia sampaikan hanya pengalaman orang lain atau sudah dipergumulkan atau sudah mengalami pengujian (1 Yoh.4:1). Karena tanpa pengujian terlebih dahulu dapat menyebarkan penyesatan. Hamba TUHAN tidak sembarangan atau terburu-buru menumpangkan tangan, karena hal itu akan mendatangkan kecemaran (1 Tim.5:22) bagi yang ditumpangi tangan maupun bagi penumpang tangan.
2. Para konselor. Konselor artinya “penasehat”, jadi posisi sebagai konselor adalah untuk menasehati, bukan untuk berjaga-jaga orang yang jatuh. Karena Yesus adalah Penasehat Ajaib (Yes.9:5), sehingga kita diberi karunia untuk menasehati berdasarkan Sabda TUHAN (2 Tim.3:16).
3. Umat TUHAN. Penumpangan tangan dapat aman kalau disuruh oleh TUHAN, seperti yang dilakukan Musa terhadap Yosua (Bil.27:18), karena hakekat penumpangan tangan adalah transfer roh (Ul.34:9), roh jahat transfer juga sewaktu tumpangan tangan. Penumpangan tangan TUHAN Yesus saja yang masih aktual (Luk.24:50-53).

Ujilah segala sesuatu dan peganglah yang baik (I Tes. 5:21).

Jumat, 08 Januari 2010

Paradigma Tuhan,


“Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman Tuhan. Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu.”
(Yesaya 55:8-9)

Rancangan Tuhan sukar diterima oleh manusia, kecuali kalau manusia menyadari perbedaan antara pertimbangan Tuhan dan pikiran manusia, yang dikiaskan di sini dengan jauhnya jarak antara langit dan bumi. Sebab, manusia mempunyai banyak rancangan, tetapi Tuhanlah yang menentukan arah langkahnya (Ams 19:21Banyaklah rancangan di hati manusia, tetapi keputusan Tuhanlah yang terlaksana”)

Rancangan Tuhan itu damai sejahtera (Yer.29:11) dan damai sejahtera itu bukan seperti yang dipikirkan manusia, tetapi seperti yang Tuhan nyatakan dalam Firman-Nya: “Semua itu Kukatakan kepadamu, supaya kamu beroleh damai sejahtera dalam Aku. Dalam dunia kamu menderita penganiayaan, tetapi kuatkanlah hatimu, Aku telah mengalahkan dunia” (Yoh.16:33).

Rancangan Tuhan itu selalu membawa sukacita bagi mereka yang menerima Tuhan, sebab di tengah-tengah kepahitan dan penderitaan yang mereka alami, mereka tetap menerima kekuatan Tuhan, sehingga mereka dapat menanggung segala perkara yang mereka alami, maka mereka memperolah damai sejahtera yang abadi.

Rancangan Tuhan adalah supaya kita sungguh-sungguh hidup, lain dari itu berarti kita asal-asal hidup. Sehingga kita harus mengetahui apa yang ingin Tuhan lakukan untuk kita, maka berkat Tuhan datang pada kita, ketika kita melakukan dan menaati perintah Tuhan (Yoh.13:17 “Jikalau kamu tahu semua ini, maka berbahagialah kamu, jika kamu melakukannya”).

Tuhan mau melimpahkan berkatNya, asal saja kita mau dengan rela menerima dan menjalankan rancangan-rancanganNya, walaupun rancangan Tuhan itu lain daripada yang kita bayangkan, dan kita harus memeriksa diri sendiri, apa yang telah kita dengar, apa yang telah kita lakukan dan apa yang telah kita hindarkan dan sampai dimana kita mengikuti panggilan Tuhan, dengan akibat bahwa keadaan kita bisa mengecewakan, karena kita harus berhenti melakukan apa yang kita sukai, apa yang kita anggap baik, supaya kita memasuki rancangan Tuhan. Sebab itu, hidup kita harus selalu diperbaharui oleh Tuhan, supaya kita hidup selalu didalam damai sejahtera Tuhan Yesus.

Hidup kita yang diperbaharui oleh Tuhan, adalah jikalau kita masuk ke dalam paradigma (kerangka berpikir) Tuhan, yaitu:

1.       Paradigma Tuhan: ‘minum anggur atau minuman yang beralkohol adalah sewaktu mendapat gangguan pencernaan dan tubuh lemah’ (baca 1 Tim. 5 : 23 “Janganlah lagi minum air saja, melainkan tambahkanlah anggur sedikit, berhubung pencernaanmu terganggu dan tubuhmu sering lemah”).
Ø      Tetapi banyak orang minum anggur atau minuman beralkohol mengakibatkan sakit perut di kemudian hari dan tubuh mereka menjadi lemah setelah minum anggur atau minuman yang beralkohol tersebut.

2.       Paradigma Tuhan: ’anak adalah anugerah’ (“...anak-anak yang diberikan TUHAN kepadaku adalah tanda dan alamat...”, Yes.8:18), tetapi manusia menjadikan anak itu adalah suatu keharusan dari pernikahan, karena  secara hurufiah memahami Kej.1:28 “...Beranakcuculah dan bertambah banyak...” adalah untuk keharusan  memiliki anak-cucu. Padahal kesegambaran manusia dengan Tuhan yang mau dinyatakan di ayat itu, sekali-kali tidaklah terjadi dari kemampuan beranak, tetapi sebagai tuan yang menguasai alam ciptaan-Nya.
Ø      Berbagai cara dilakukan orang untuk memiliki anak, bahkan dengan perdukunan dan kebiasaan-kebiasaan orang yang tidak mengenal Tuhan atau dongeng nenek - nenek tua (1 Tim.4:7), sehingga anak yang dilahirkan mempunyai perilaku yang mendukakan hati orang tua dan akhirnya mendatangkan kebinasaan kepada orang-tuanya dan lingkungan yang terpengaruh oleh prilaku si anak.

3.       Paradigma Tuhan: ‘tidak semua orang kawin’. Tidak semua orang mendirikan mahligai rumah tangga (berkeluarga). Karena “Ada orang yang tidak dapat kawin karena ia memang lahir demikian dari rahim ibunya, dan ada orang dijadikan demikian oleh orang lain dan ada orang membuat dirinya demikian karena kemauannya sendiri oleh karena Kerajaan Sorga...” (Mat.19:12).
Ø      Sehingga tidak ada dasarnya orang mengatakan bahwa orang yang tidak kawin adalah orang yang tidak diberkati, orang yang malang, karena Yohanes Pembaptis dan Paulus tidak kawin, namun mereka dipakai Tuhan untuk menyatakan rancangan-Nya.

1.       Paradigma Tuhan: ‘tidak semua orang yang menikah memiliki anak dari darah dagingnya’, tetapi mereka menjadi ibu yang berbahagia dan kerinduan hati mereka dipuaskan oleh Tuhan. Karena Tuhan “mendudukkan perempuan yang mandul di rumah sebagai ibu anak-anak, penuh sukacita. Haleluya!” (Maz.113:9) dan “Bersukacitalah, hai si mandul yang tidak pernah melahirkan! Bergembira dan bersorak-sorailah, hai engkau yang tidak pernah menderita sakit bersalin!” (Gal.4:26).
Ø      Sehingga tidak ada dasar bagi keluarga (yang sudah berdoa untuk meminta anugerah anak) untuk pergi meminta pertolongan ke dukun. Ora et Labora berarti berdoa dan berusaha secara medis (kesehatan) yang diberkati oleh Tuhan.

4.       Paradigma Tuhan: ‘tidak semua orang yang berdoa untuk  kesembuhan akan mengalami kesembuhan’. Sebagaimana Paulus yang sudah tiga kali berseru supaya duri dalam dagingnya dihilangkan, tetapi jawab Tuhan: “Cukuplah kasih karnia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.” (2 Kor.12:9a).
Ø      Sehingga, ketika berdoa: tidak sembuh, tidak ada alasan mencari kesembuhan dari dukun atau pengobatan alternatif, karena menganggap bahwa ke dukun itu sebagai usaha yang disetujui oleh Tuhan.

5.       Paradigma Tuhan: ‘Mintalah, maka akan diberikan kepadamu’ (Lukas 11:9a) adalah suatu kepastian, kalau yang kita minta itu adalah Roh Kudus (Lukas 11:13b “Bapamu yang di Sorga akan memberikan Roh Kudus kepada mereka yang meminta kepada-Nya.”)
Ø      Sehingga jika ada yang mengimani dirinya sebagai orang percaya, ketika ia meminta atau memohon tidak mendapat, maka janganlah ia meragukan imannya. Karena pemberian Tuhan adalah apa yang menjadi kehendak-Nya.

6.       Paradigma Tuhan: “...cerdik seperti ular...(Mat.10:16) adalah untuk penginjilan, tetapi banyak orang memahami, kalau seseorang tidak sembuh dari suatu penyakit setelah berdoa, maka mereka boleh ke dukun. karena pergi ke dukun dianggap sebagai usaha seperti pergi berobat ke dokter.
Ø      Sungguh sangat berbeda pergi ke dokter (medis) dan pergi ke dukun. kalau kita pergi ke medis karena itu adalah ilmu pengetahuan yang diberkati Tuhan, tetapi kalau kita pergi ke dukun itu adalah masalah iman atau kepercayaan yang lain, karena apa yang diberikan dukun adalah pimpinan dari yang dipercayainya, yang jelas bukan dari Tuhan. Misalnya yang diberikan adalah jimat-jimat seperti batu-batuan, maka hal itu tidak dapat diterima berhubungan dengan tubuhnya yang sakit, tetapi selalu dikaitkan dengan yang dibuat orang lain melalui guna-guna atau santet, dukun memberikan mantra-mantra, maka hal itu tidak ada kaitannya dengan ilmu pengetahuan tentang penyakit yang ada di tubuhnya, tetapi jimat, guna-guna, mantra itu adalah kepercayaan yang tidak mengenal Tuhan.

7.      Paradigma Tuhan: ‘Kemalangan orang benar banyak, tetapi TUHAN melepaskan dia dari semuanya itu (Mazmur 34:20)’. Orang benar atau orang percaya mempunyai banyak penderitaan atau persoalan hidup, tetapi Tuhan senantiasa memberikan pertolongan. Sehingga ”segala perkara dapat kita tanggung di dalam Yesus yang memberi kita kekuatan” (Filipi 4:13). Sedangkan “kemalangan akan mematikan orang fasik” (Mazmur 34:22)
Ø      Tetapi banyak orang yang merasa bahwa orang percaya hidup di dalam kelimpahan, tidak mengalami penderitaan, apa yang diminta akan dikabulkan, hidupnya senantiasa berhasil.

8.      Paradigma Tuhan: ‘Pengertian orang tua bukan saja orang yang melahirkan, tetapi orang yang lebih tua, maka kita juga menghormati mereka’ (1 Tim.5:1a “Janganlah engkau keras terhadap orang yang tua, melainkan tegorlah dia sebagai bapa.”)
Ø      Sehingga kita harus menghormati orang yang lebih tua, siapapun itu. kita memperlakukan mereka dengan penuh hormat, supaya lanjut umur kita di tanah yang diberikan Tuhan.

9.Paradigma Tuhan: Janda-janda diperhatikan dan dihormati dengan benar(1 Tim.5:3 “Hormatilah janda-janda yang benar-benar janda”). Janda-janda dalam kedudukan yang sangat lemah, sehingga TUHAN mempunyai perhatian yang khusus dan membela kepentingan mereka (Ams 15:25 “Rumah orang congkak dirombak TUHAN, tetapi batas tanah seorang janda dijadikanNya tetap”).
Ø      Kebaikan kepada janda dinilai sebagai tanda kesalehan yang sebenarnya, bahkan TUHAN membuat dalam ketentuan-ketentuan Hukum Taurat untuk melindungi para janda (Kel.22:22 “Seseorang janda atau anak yatim janganlah kamu tindas“). Menghormati janda juga berarti memberi bantuan untuk yang mereka butuhkan, bukan penghormatan dengan kata-kata saja (bnd.Mat.15:4-6), karena janda yang benar-benar janda adalah seorang ibu yang kehilangan seorang penopang, maka mereka layak mendapatkan pertolongan.

10.   Paradigma Tuhan: janda atau duda dapat nikah lagi(1 Kor.7:9 “kalau mereka tidak dapat menguasai diri, baiklah mereka kawin. Sebab lebih baik kawin dari pada hangus karena hawa nafsu”).
Ø      Keinginan seksual adalah kodrati dan pernikahan merupakan pemenuhannya. Sehingga tidak ada gunanya seseorang bertahan untuk tidak kawin, jika  pikiran-pikirannya menjadi kacau.

11.   Paradigma Tuhan: ‘anak atau cucu berbakti kepada ibunya yang janda’ (1 Tim.5:4 “jikalau seorang janda mempunyai anak atau cucu, hendaknya mereka itu pertama-tama belajar berbakti kepada kaum keluarganya sendiri dan membalas budi orang tua dan nenek mereka”). Janda itu menjadi kewajiban utama anak-anaknya.
Ø      Bila mereka tidak dapat berbakti kepada orang tuanya sendiri yang dapat mereka lihat dan yang kepadanya mereka berhutang budi (didasarkan atas rasa terimakasih dan balas budi), apa lagi mereka beribadah kepada Tuhan (bnd. 1 Yoh.4:20). Jadi, supaya anak-anak diberkati, mereka harus terlebih dulu berbakti kepada ibunya.

12.  Paradigma Tuhan: ‘janda yang benar-benar jandalah yang perlu ditolong’ (1 Tim.5:5a “seorang janda yang benar janda, yang ditinggalkan seorang diri”).
Ø      Janda yang benar-benar janda yang perlu ditolong adalah janda yang tidak ada sanak saudara lagi yang dapat memelihaharanya, maka ia harus bergantung kepada Tuhan. Ketergantungan itu nampak dalam ketekunananya beribadah dan berdoa siang dan malam kepada Tuhan.

13.  Paradigma Tuhan: ‘anak yang tidak memelihara ibunya yang janda adalah lebih buruk daripada yang tidak beriman’ (1 Tim.5:8 “jika ada seorang yang tidak memelliharakan sanak saudaranya, apalagi seisi rumahnya, orang itu murtad dan lebih buruk dari orang yang  tidak beriman”)
Ø      Karena anaklah yang terakhir mengenal tanggung jawabanya terhadap orang tua yang mempunyai hubungan darah dengan mereka dan demi pemeliharaan hukum kasih.


Kita memilih Paradigma (kerangka berpikir) Tuhan, supaya kita memiliki damai sejahtera abadi dan hidup berkelimpahan

Doa:
Tuhan Yesus yang Maha Pengampun, ampuni saya yang selama ini memiliki paradigma yang tidak sesuai dengan kehendak-Mu, dan saat ini beri saya pengertian, supaya saya dapat memiliki paradigma Tuhan di dalam setiap sisi kehidupan saya, sehingga saya dapat memuliakan Tuhan Yesus untuk selama-lamanya. Amin.

Rabu, 23 Desember 2009

Kasih dan Penderitaan,

Barangsiapa Kukasihi, ia Kutegor dan Kuhajar; sebab itu relakanlah hatimu dan bertobatlah!
(Wahyu 3:19)

Kasih TUHAN menggambarkan kasih yang akrab, yang TUHAN nyatakan kepada kita. Kasih TUHAN yang memungkinkan kita melihat kenyataan-kenyataan rohani. Sehingga, keadaan kita yang jatuh ke dalam dosa dan penderitaan yang kita alami tidaklah dapat menghilangkan kasih TUHAN, penghajaran-penghajaran yang kita alami hanyalah merupakan ungkapan kasih sayang yang mendalam yang akan membawa kita kepada pertobatan.
 Pada tahun 2000, ketika penulis melayani di Sentani (Papua). Penulis melayani seorang ibu yang mengalami kegelisahan yang membuat badannya selalu lemah, oyong (goyah). Setelah dilayani, ditemukan penyebabnya: Ibu itu semasa gadisnya adalah seorang pekerja dan setelah dia berkeluarga dan mempunyai satu anak, maka ibu itu tidak bekerja lagi. Beban pikiran inilah yang membuat si ibu mengalami gangguan jasmani. Setelah diberi pengertian suami adalah kepala Rumah Tangga dan gaji suami sudah mencukupi, maka si ibu mendapat ketenangan. Setelah itu Penulis pulang dan memasukan kendaraan roda dua ke rumah, kaki Penulis tersentuh knalpot, waktu kaki terasa panas, maka Penulis mengucapkan terimakasih TUHAN, walaupun di dalam hati Penulis bertanya ‘Mengapa Penulis mengalami musibah, padahal baru melayani’. Setelah Penulis mengucap syukur, maka Penulis teringat pada saat SD (Sekolah Dasar) pernah berkelahi dan berjiwa pengecut. Ketika itu Penulis menendang kawan sekolah (menggunakan kaki yang terkena knalpot itu) kemudian melarikan diri. Setelah mengingat itu, Penulis mempertobatkan apa yang sudah Penulis lakukan 25 tahun yang lalu.

Pertobatan adalah perubahan hati, perubahan nyata dalam pikiran dan sikap.TUHAN turut berperan dalam pertobatan, sehingga manusia dimampukan dan dimotivasi untuk mengerjakan keselamatan (Flp 2:12-13). Maka, pertobatan
adalah karya TUHAN untuk menyembuhkan ketidak mampuan rohani manusia. TUHAN menarik manusia kepada-Nya dengan kuasa dan kepastian yang kokoh (1 Tes.1:5), TUHAN juga yang lebih dahulu bekerja dalam diri manusia, supaya manusia bertobat, maka manusia mampu menanggapi Injil (Kabar Baik), yaitu: TUHAN memenuhi janji-janji-Nya dan jalan keselamatan telah dibuka bagi semua orang.

Apakah kita sudah mengetahui penghajaran atau penderitaan yang kita alami membuat kita bertobat? Kalau kita sudah bertobat berarti hal itu karena kasih TUHAN, namun kalau penghajaran atau penderitaan yang kita alami membuat kita semakin jauh dari TUHAN, bahkan kita tidak mempercayai TUHAN lagi!!! Maka,sadarilah,hal itu adalah pekerjaan Iblis.

Iblislah yang membuat manusia menderita, sehingga Kita harus sadar bahwa Iblis memberi pengertian seolah-olah TUHAN lah yang membuat manusia menderita, maka manusia harus menjauh, bahkan menjadikan TUHAN sebagai musuhnya. Padahal kita mengalami penderitaan adalah karena pekerjaan Iblis. Iblislah yang bermaksud jahat dengan mencobai manusia untuk memberontak terhadap TUHAN. Sebab TUHAN tidak pernah mencobai siapapun (Yak.1:13).
 Pada tahun 1994, ketika Penulis liburan semester dari STT HKBP, kami (saya dan satu orang rekan kuliah) melayani di Name Halu, Nias. Ada seorang bapak yang merasa aneh, dimana rumahnya terbakar dan yang terbakar hanya atapnya saja (keadaan rumah disana: dapurnya terpisah dengan rumah, jadi diperkirakan api dari dapurlah yang menyebabkan kebakaran). Si Bapak adalah seorang penatua, si Bapak merenungkan semakin dia dekat dengan TUHAN (karena dia mengambil keputusan untuk menjadi penatua), semakin banyak penderitaan yang dialami: anaknya yang sakit-sakitan, rumahnya yang terbakar. si Bapak mengganggap TUHAN yang membuat dia menderita, sehingga si Bapak tidak bersemangat lagi menjadi seorang penatua. Penulis menyampaikan: TUHAN tidak pernah mencobai siapapun. Tentu penderitaan yang dialami adalah pekerjaan Iblis. Tetapi, kenapa si Bapak dapat diganggu oleh Iblis? Ternyata, ketika anaknya sakit dibawa kepada ‘orang pintar’ dan diberikan benda yang dijadikan jimat. Si Bapak mau menerima benda itu karena dikatakan berisi ayat Alkitab dan salib. Setelah Penulis membuka benda itu, di dalamnya ada ayat Alkitab, gambar salib yang dibungkus rapi dengan kain. Jadi, bukan untuk dibaca, tetapi sebagai jimat. Demikian juga waktu ia membangun rumah, diatasnya (dibumbungan) dibuat jimat dan sewaktu mau dibangun ditanya dahulu kepada ‘orang pintar’ (dukun). Hal itulah yang menyebabkan si Bapak menderita. Akhirnya, si Bapak menginsafi bahwa penderitaannya adalah pekerjaan Iblis dan ia bertobat.

Penderitaan dianggap sebagai gangguan atas dunia ciptaan TUHAN, karena seluruh ciptaan diciptakan dalam keadaan baik dan bebas dari penderitaan (Kej.1:31). Setelah manusia jatuh ke dalam dosa, penderitaan pun timbul dalam bentuk pertentangan, kesakitan, kebinasaan dan maut (Kej.3:15-19). Maka, dibutuhkan suatu pribadi yang sanggup menyelamatkan kita dari penderitaan. Siapakah Dia? Yaitu Yesus. Sebab, pekerjaan Yesus Kristus adalah melepaskan kita dari:
1. penderitaan, kebinasaan dan maut (I Kor.15:21; Rm 8:21a “...manusia itu sendiri juga akan dimerdekakan dari perbudakan kebinasaan”),
2. dosa (Mat.1:21b “karena Yesus lah yang akan menyelamatkan umatNya dari dosa mereka”).

TUHAN mengasihi dan memperhatikan kita, maka TUHAN mengijinkan kita mengalami penderitaan, setelah kita melakukan pelanggaran atau dosa. Namun, penderitaan itu tidak membinasakan hidup kita, tetapi supaya kita mengalami kekuatan hati dan damai sejahtera, sebab Yesus telah mengalahkan penderitaan (Yoh.16:33 “semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya kamu beroleh damai sejahtera dalam Aku. Dalam dunia kamu menderita penganiayaan, tetapi kuatkanlah hatimu, Aku telah mengalahkan dunia”).

Penderitaan senantiasa dapat menjadi beban persoalan yang selalu dirasa berat oleh manusia, karena dianggap didatangkan oleh TUHAN. Padahal TUHAN yang bertindak supaya manusia lepas dari penderitaan (Mzm 39:10). Maka, Manusia mempunyai kesempatan merenungkan: sampai di mana dia bisa hidup oleh iman, dan seberapa jauh dapat ditolaknya keinginan hatinya untuk mendapati penjelasan yang dapat diterima oleh akal, sebab iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat (Ibr.11:1). Maka, kita beriman bahwa penderitaan itu tidak terlepas dari fakta, yaitu kasih TUHAN, keadilan dan kebenaran-Nya (Mzm 73:1-28).

Tuhan Yesus juga sudah memperingati kita bahwa kita akan mengalami berbagai penderitaan di dunia ini. Sehingga tidak ada seorangpun yang bebas dari penderitaan, karena setiap orang yang dapat bebas dari penderitaan yang satu, maka menanti penderitaan yang lain. Oleh karena itu, setiap orang harus membutuhkan kekuatan dari TUHAN untuk mengalahkan setiap penderitaan (Flp 4:13). Maka, bagi orang yang beriman, penderitaan menguatkan, tetapi bagi orang yang tidak beriman penderitaan itu menghancurkan.

Iman nyata dalam kehadiran dan kebaikan TUHAN yang menjadi penentu dalam keadaan yang dihadapi, walaupun penderitaan teramat pahit sekalipun (Mzm 73:21-23 “Ketika hatiku merasa pahit dan buah pinggangku menusuk-nusuk rasanya, aku dungu dan tidak mengerti, seperti hewan aku di dekat-Mu. Tetapi aku tetap di dekat-Mu; Engkau memegang tangan kananku”).

Iman sejati tidak menuntut untuk segera mengetahui dengan lengkap: mengapa TUHAN membiarkan kita mengalami penderitaan? Iman sejati dapat menahan penderitaan, walaupun dalam keadaan paling gawat sekalipun (Hab.2:3b “...apabila berlambat-lambat, nantikanlah itu, sebab itu sungguh-sungguh akan datang dan tidak akan bertangguh”).

Oleh karena itu, penderitaan yang kita alami adalah hal biasa (bnd. I Kor.10:13), karena hal itu sudah dinyatakan TUHAN melalui Petrus: Saudara-saudara yang kekasih, janganlah kamu heran akan nyala api siksaan yang datang kepadamu sebagai ujian, seolah-olah ada sesuatu yang luar biasa terjadi atas kamu (I Ptr 4:12). Sehingga, setelah kita mengalami penderitaan:

1. kita mengetahui TUHAN dekat dengan kita (Mzm 34:19 “TUHAN itu dekat kepada orang-orang yang patah hati, dan Ia menyelamatkan orang-orang yang remuk jiwanya”);

2. kita belajar mengenal Yesus dan bergantung kepada Yesus (Ibr 12:2b “Marilah kita melakukannya dengan mata tertuju kepada Yesus, yang memimpin kita dalam iman, dan yang membawa iman kita itu kepada kesempurnaan, yang dengan mengabaikan kehinaan tekun memikul salib ganti sukacita yang disediakan bagi Dia...”).

Ayub mengalami penderitaan dan dalam pergumulan penderitaannya Ayub sempat kehilangan semangat (putus asa), tetapi akhirnya Ayub sanggup bangkit kembali, karena dalam penglihatannya Ayub melihat TUHAN menantangnya, sehingga Ayub mendapat kepastian dan ia dapat menang mengatasi segala penderitaannya (Ayub 42:2 “aku tahu, bahwa Engkau sanggup melakukan segala sesuatu, dan tidak ada rencana-Mu yang gagal”).

Rasul Paulus juga sudah tiga kali berseru kepada TUHAN, supaya dia lepas dari penderitaan, karena adanya duri dalam daging, tetapi TUHAN menjawab: “cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna” (2 Kor.12:9a). Paulus meyakini akan kasih TUHAN dan kasih TUHAN tak pernah habis dan terus mengalir untuk menguatkan manusia ketika menderita.
 Ada seorang penatua yang mengalami kesakitan pada kakinya. Kakinya mulai terasa sakit, setelah dia berkunjung ke pekuburan, kakinya masuk ke kuburan yang amblas, sejak saat itulah kaki mengalami kesakitan dan tentunya dia sudah berdoa dan sudah berobat, namun tidak sembuh juga, oleh karena tidak sembuh-sembuh, maka dia mencari pengobatan alternatif (perdukunan), sampai dia mendengar ada penatua yang mempunyai kemampuan mengobati secara ‘dappol tongosan’ (penatua ini menggunakan media tembakau, yang diurutkan pada kakinya sendiri, namun orang lain yang tidak bersamanya yang merasakan pengurutan itu), maka penatua yang kesakitan tadi ingin belajar pengobatan itu. Apakah pengobatan itu dari TUHAN, tentunya tidak (bnd. II Kor.11:14-15).

Sikap Rasul Paulus jelas, bukan tidak ada pada masa itu orang yang mempunyai keahlian supranatural (bnd. II Tes.2:9-10), namun dia tetap percaya kepada Tuhan Yesus, walaupun dia tidak sembuh (duri itu tetap dalam dagingnya).

Penderitaan dapat juga dipandang sebagai hajaran untuk:
1. memperbaiki cara hidup umat TUHAN (Ams 3:12 “Karena TUHAN memberi ajaran kepada yang dikasihi-Nya, seperti seorang ayah kepada anak yang disayangi”);
2. menguji maupun memurnikan manusia (I Ptr 1:7, Rm 5:3 “Kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan kita, karena kita tahu, bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan”);
3. mendekatkan manusia kepada TUHAN dalam rangka ketaatan dan persekutuan yang baru (Mzm 119:67 “Sebelum aku tertindas, aku menyimpang, tetapi sekarang aku berpegang pada janji-Mu”),
maka penderitaan itu mendatangkan kebaikan bagi orang yang mengasihi TUHAN (Rm 8:28).

Penderitaan juga mempunyai makna bagi pengikut Yesus:
1. Pengikut Yesus turut menderita dalam penderitaan Kristus (Rm 8:17, II Kor.1:5 “Sebab sama seperti kami mendapat bagian berlimpah-limpah dalam kesengsaraan Kristus, demikian pula oleh Kristus kami menerima penghiburan berlimpah-limpah”),
2. Pengikut Yesus mengganggap dirinya wajib menanggung penderitaan (Flp 1:29 “Sebab kepada kamu dikaruniakan bukan saja untuk percaya kepada Kristus, melainkan juga untuk menderita untuk Dia”).
Maka apapun bentuk penderitaan pengikut Yesus adalah dalam rangka mengikut Yesus di jalan salib-Nya (Mat.14:24 “...setiap orang yang mau mengikut Yesus, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Yesus”).

Trimakasih Tuhan Yesus, untuk setiap penderitaan yang kualami, sehingga saat ini aku mengenal kasihMu dan ampunilah juga aku yang selama ini tidak menginsafi bahwa segala penderitaan yang kualami adalah dalam rangka kasihMu, bahkan aku pernah menjauh dariMu. Saat ini aku sadar, aku mengalami penderitaan supaya aku tetap mengerjakan keselamatan yang sudah Engkau anugerahkan kepadaku. Amin

“Penderitaan bukanlah akhir dari segalanya, tetapi penderitaan adalah awal untuk menikmati sukacita sorgawi, karena kasih Tuhan Yesus ”

Senin, 21 Desember 2009

Karya Tuhan Yesus,



Lihat, Yesus berdiri di muka pintu dan mengetok; jikalau ada orang yang mendengar suara Yesus dan membukakan pintu, Yesus akan masuk mendapatkannya dan Yesus makan bersama-sama dengan kita, dan kita bersama-sama dengan Yesus
bnd. Wahyu 3:20).

Pintu yaitu tempat untuk masuk dan keluar, sehingga ketika Tuhan Yesus mengetuk pintu hati manusia dan manusia mau mendengar suara Yesus dan membuka pintu hatinya, maka Tuhan Yesus masuk dan berkarya di dalam hidup manusia.Tuhan Yesus tidak pernah memaksakan diri untuk masuk ke dalam hati manusia, sebab itu Ia mengetok. Manusia harus membuka pintu hatinya untuk Tuhan Yesus, supaya manusia mengalami perubahan-perubahan dan menikmati karya keselamatan dari Tuhan Yesus.

Mengapa ada orang sukar untuk melakukan yang baik atau ada orang yang sukar bertobat, walaupun sudah lama didoakan? Bahkan sudah banyak yang mendoakannya, dan lagi dikatakan: TUHAN mahakuasa, apa tidak bisa dari kuasa (otoritas) TUHAN sendiri untuk merobah hati manusia supaya manusia tidak melakukan yang jahat lagi?!!

Firman TUHAN menyatakan Ia tidak pernah memaksakan kehendakNya, bahkan TUHAN selalu mengetok pintu hati manusia, jika manusia membuka hatinya, maka Tuhan Yesus masuk dan makan bersama-sama manusia. Artinya Tuhan Yesus menjadikan manusia sebagai rekan (sahabat) dalam kegiatan manusia sehari-hari, Pengertian makan adalah melakukan kehendak-Nya dan menyelesaikan pekerjaan-Nya (Yoh.4:34). Sungguh sangat berharga kita dihadapan TUHAN.

Tuhan Yesus terus dan akan tetap mengetok pintu hati manusia dan ini adalah kesempatan yang Tuhan Yesus berikan kepada manusia yang belum bertobat supaya mereka bertobat. Kesempatan itu sampai saat ini adalah sebagai bukti kesabaran TUHAN supaya manusia memperoleh keselamatan (II Ptr 3:15a “Anggaplah kesabaran Tuhan kita sebagai kesempatan bagimu untuk beroleh selamat”). TUHAN tidak menghendaki kematian orang jahat, melainkan Ia berkenan kepada pertobatan orang jahat itu dari kelakuannya supaya ia hidup (Yeh.33:11b “TUHAN tidak berkenan kepada kematian orang fasik, melainkan TUHAN berkenan kepada pertobatan orang fasik itu dari kelakuannya supaya ia hidup.”)

Manusia yang meraih kesempatan itu dapat menerima karya keselamatan yang Tuhan Yesus sediakan bagi kita, karena dengan hati orang percaya dan dibenarkan, dan dengan mulut orang mengaku dan diselamatkan (Rm 10:10). Kita mengaku bahwa Yesus adalah TUHAN dan Yesus bangkit dari antara orang mati (Rm 10:9) untuk menyelamatkan kita orang berdosa yang mau membuka hati untuk Tuhan Yesus.

Manusia diberi TUHAN pengharapan dan semangat untuk menghadapi kehidupan ini. Manusia sungguh sangat berharga dihadapan TUHAN, sehingga manusia ditebus dari perhambaan dosa, bukanlah dengan emas dan perak, melainkan dengan darah Yesus (I Ptr 1:18-19). Sehingga sekalipun Iblis mengintip dan mau mencondongkan hati manusia untuk memberontak kepada TUHAN, namun manusia dapat mengalahkan tipu daya Iblis karena karya TUHAN yang menyelamatkan itu.

Karena itu orang yang melakukan dosa, belum membuka hati dan belum menginsafinya lah yang sukar melakukan apa yang baik, karena karya Iblis selalu mengintip di depan pintu, sehingga hati yang tidak terbuka kepada Yesus, cenderung melakukan yang jahat atau karya Iblis . Dosa itu adalah buah perbuatan manusia karena melanggar Titah TUHAN (Kej.4:7b “.... ....Tetapi jika engkau tidak berbuat baik, dosa sudah mengintip di depan pintu; ia sangat menggoda engkau, tetapi engkau harus berkuasa atasnya”).

TUHAN menyadarkan kita akan kedua gerak hati, yaitu gerak hati yang baik dan yang tidak baik. Jikalau kita berbuat baik (berkelakuan baik), maka muka kita akan berseri-seri, tetapi jikalau kita tidak berbuat baik (tidak berkelakuan baik), maka Iblis mengintai dan mengintip di depan pintu hati, Iblis sangat menggoda manusia. Dosa adalah kemungkinan yang senantiasa dapat terjadi dalam hidup manusia, sekalipun pintu dibuka sebelah saja (bagi pintu yang memiliki dua belah), seluruh isi rumah sudah bisa diamati dan dimasuki Iblis.

Dosa adalah suatu gairah dan hasrat (keinginan yang kuat) yang bergerak selalu dalam hati manusia, sehingga manusia menjadi medan pertempuran bagi gairah dan hasrat. Namun manusia mempunyai tanggung jawab untuk berkuasa atas gairah dan hasrat dosa. Mampukah manusia mengatasi gairah dan hasrat yang mendatangkan dosa?

Manusia akan gagal (tidak mampu) untuk mengalahkan gairah dan hasrat dosa, kalau itu adalah usaha manusia semata Namun keterbukaan pintu hati kita untuk Tuhan Yesus, hingga Tuhan Yesus bebas berkarya untuk membawa kita masuk kedalam rancanganNya, hal inilah yang mengalahkan gairah dan hasrat yang mendatangkan dosa itu.
 Se-orang nona yang dulunya beragama non-Kristen, suatu ketika dia menemukan Alkitab milik kepunyaan ayahnya (juga non-Kristen). Oleh karena, dia ingin tahu tentang agama Kristen, maka dia mengikuti ibadah Minggu. Pada waktu dia hadir dalam kebaktian Minggu itu, pendeta mendoakan orang yang hadir yang belum mengenal Tuhan Yesus, supaya terbuka hatinya, maka nona itu merasa bahwa ucapan pendeta itu untuk dirinya, kemudian nona itu membuka hatinya, meminata agar Tuhan Yesus memberikannya pengertian dan pengenalan akan Tuhan Yesus. Karena si nona sudah membuka hatinya, maka Tuhan Yesus berkarya dalam hidupnya. Sehingga, walaupun si nona mengalami penganiayaan dari saudara-saudaranya, tetapi dia tetap tidak mau meninggalkan kepercayaannya terhadap Tuhan Yesus sampai saat ini. Sungguh ajaib karya Tuhan Yesus, setelah manusia mau membuka hati. Terpujilah Tuhan Yesus

Dosa dikalahkan oleh karya Yesus melalui: kelahiran-Nya yang ajaib (Yes.9:5, Luk.1:31-33) dan hidup-Nya yang taat kepada Bapa secara sempurna (Ibr 5:7-9). Ketaatan Yesus Anak Manusia yang ditunjukkanNya yaitu melalui kematian-Nya di kayu salib, KebangkitanNya, kenaikanNya ke sorga. Yesus Anak Manusia menyatakan kerajaan-Nya atas sejarah umat manusia dan kedatangan-Nya yang kedua kali dengan penuh kemuliaan sampai selama-lamanya. Sampai selama-lamanya, Tuhan Yesus tetap menyertai serta menolong orang percaya (Flp 1:19, Kis.8:39) dan mengetok pintu hati manusia yang belum mengenalNya secara pribadi.

Di dalam manusia yang membuka hatinya, Tuhan Yesus berkarya untuk mendatangkan keselamatan melalui pengampunan-Nya dan ketika ada hamba Tuhan yang berkata-kata tentang keselamatan dan pengampunan, maka Tuhan Yesus memberi hati orang itu pengertian supaya mengerti apa yang dikatakan hamba TUHAN (seperti Kis.16:14b “Tuhan membuka hatinya, sehingga ia memperhatikan apa yang dikatakan Paulus.”).

Iblis bersifat memaksa dan mendakwa manusia siang dan malam. Jikalau manusia jatuh ke dalam dosa, maka Iblis berkarya untuk melakukan penipuan-penipuan, supaya manusia itu akhirnya binasa.
 Ada seorang anak di Panti Asuhan yang menderita sakit asma menahun, kami berbicara berdua di kamarnya. Penulis menyampaikan bahwa sakit asma bisa karena tertekan dan menanyakan apa yang menyebabkan dia tertekan? Dahulu dia masuk ke Panti Asuhan karena mamaknya meninggal dan bapaknya tidak mampu mengasuh anak-anaknya. Kemudian bapaknya mengantarkanya ke Panti Asuhan dan berjanji suatu ketika akan menjemputnya. Ternyata hari berganti hari, bulan berganti bulan, tahun berganti tahun, bapaknya tidak pernah datang, yang membuat dia semakin tertekan, dia mendengar bapaknya sudah meninggal, namun dia tidak percaya dan tetap tidak mau percaya, meskipun dia tidak melihat bapaknya di kampung, dan walaupun kakaknya sendiri telah menyampaikannya. Ketika Penulis menyampaikan apakah bapaknya mati atau belum, itu bisa dibuktikan. Anak itu langsung protes “bapakku masih hidup” dan menyatakan bahwa bapaknya sering datang menjenguknya dan dia bisa memanggil bapaknya untuk hadir saat itu juga, setelah itu perilaku berubah dan dia mengatakan bahwa bapaknya ada di kamar itu. Iblis berhasil membuat karya penipuan terhadap anak itu, dimana Iblis menyamar sebagai bapaknya yang sudah meninggal (bnd. II Kor.11:14). Setelah dia mau diinsafkan bahwa bapaknya sudah meninggal dan apa yang dia lihat dan panggil bapak adalah Iblis yang menyamar sebagai bapaknya, maka Iblis tidak dapat menipu anak itu lagi.

Iblis berkarya untuk menipu orang yang jatuh ke dalam dosa, sehingga Iblis mencondongkan hati mereka untuk meminta pertolongan dukun atau paranormal. Dukun adalah orang yang mendapat celaka, maka orang yang datang kepada dukun pasti akan ditimpa malapetaka (Yeh.13:18). Karena orang yang pergi ke dukun adalah orang yang tidak mau menerima karya TUHAN. Bisa saja mereka merasa mendapat pertolongan dari Iblis melalui dukun, tetapi hal itu sebenarnya adalah tipuan, karena karya Iblis adalah menipu dan menghipnotis (II Tes 2:9-10 “Kedatangan si pendurhaka itu adalah pekerjaan Iblis , dan akan disertai rupa-rupa perbuatan ajaib, tanda-tanda dan muzijat-muzijat palsu, dengan rupa-rupa tipu daya jahat terhadap orang-orang yang harus binasa karena mereka tidak menerima dan mengasihi kebenaran yang dapat menyelamatkan mereka”).
 Ada seorang pemuda akan memasuki instansi pemerintahan, maka supaya dia bisa masuk, dia meminta pertolongan dukun, akhirnya pemuda itu dapat diterima di instansi pemerintahan, setelah dia bekerja beberapa tahun, dia mengalami sakit penyakit dan terus berlangsung bertahun-tahun bahkan setelah ia mempunyai istri dan anak, dia masih menderita sakit penyakit itu, dia tidak dapat menikmati hasil pekerjaanya, karena uangnya dipakai untuk berobat. Iblis lah yang berkarya, sehingga pemuda itu dulu dapat bekerja dan Iblis juga yang menggerogoti kehidupannya itu dan keluarganya. Waspadalah akan karya Iblis, sebab setiap orang yang menerima karya Iblis akan menjadi budaknya, dan mengalami kesengsaraan. Kenikmatan sesaatlah yang dikaryakan Iblis, sehingga nikmat tetapi membawa sengsara.

Ada juga orang yang percaya bahwa kalau manusia menderita, susah, sakit, karena kena guna-guna, sehingga harus meminta pertolongan dukun. Karena ada istilah yang mengatakan: “kalau dukun yang menyebabkan guna-guna, maka dicari pula dukun yang lebih kuat yang dapat menghilangkan guna-guna itu”.Istilah itu adalah kesesatan, Sebab, hanya TUHAN yang Mahakuasa dan Iblis sudah dikalahkan, maka pengikut TUHAN lebih berkuasa daripada pengikut Iblis. Sehingga karya Iblis harus dikalahkan oleh karya Tuhan Yesus.
 Seorang bapak mengalami gangguan penyakit pada bagian perutnya. Penyakit ini adalah penyakit kambuhan, kalau dia mengalami sakit itu seperti mau mati rasanya. Penyakit itu adalah karya Iblis, karena sejak masa mudanya dia kecewa dengan saudaranya yang menyusahkan orang tua mereka dan dia juga pernah ke dukun dan meminum ramuan dari dukun, ramuan-ramuan itu bersarang diperut, maka Iblis mendakwa dia melalui sakit perutnya. Setelah bapak itu mengampuni saudaranya dan minta ampun kepada Tuhan atas perdukunannya, bapak itu tidak mengalami sakit itu lagi. Karya Tuhan Yesus menyelamatkannya. Terpujilah Tuhan Yesus.

Jikalau kita ingin berubah dan menanggalkan manusia lama, maka kita harus membuka hati. Marilah kita dengar suara Yesus yang berseru-seru mengetok pintu hati dan segera membuka hati, supaya kita menerima karya Tuhan Yesus yang menyelamatkan kita. Oleh karena itu kita dapat berdoa seperti dibawah ini:
Tuhan Yesus, saat ini, aku mau mendengar suaraMu, karena Engkau yang selalu mengetok pintu hatiku, maka masuklah Engkau ya...Tuhan Yesus dan perbaharuilah hidupku ini dari waktu ke waktu, sehingga hidupku berkenan dihadapanMu dan beri aku kesadaran untuk minta ampun ketika aku jatuh ke dalam dosa, serta ampunilah aku yang selama ini melakukan yang Iblis sukai.
Berkaryalah Engkau dalam hidupku, supaya aku memiliki hati yang taat dan supaya aku menjadi hambaMu. Sehingga HambaMu dapat mengalahkan setiap karya Iblis yang selama ini menipu diriku. Maka mulai saat ini sampai selama-lama aku hanya milik Tuhan Yesus dan hanya Tuhan Yesus juruslamat pribadiku. Amin.



“Bukalah pintu hati saudara, maka Tuhan Yesus akan masuk dan saudara pasti menerima
karya Tuhan Yesus”