Minggu, 13 Februari 2022

Mengandalkan Tuhan

“Diberkatilah Orang yang Mengandalkan Tuhan ” (Yeremia 17 5-10). 


Kita yang mengandalkan Tuhan hidupnya pasti diberkati Tuhan. Kita akan menjalani hidup yang penuh berkat. Kita “tidak kuatir dalam tahun kering, dan yang tidak berhenti menghasilkan buah” maka, orang yang mengandalkan Tuhan seperti pohon yang dekat dengan sumber air. Sekalipun dalam kekeringan, pohon itu akan tumbuh sangat subur karena selalu mendapat pasokan nutrisi yang cukup. Kita yang sepenuhnya mengandalkan Tuhan akan diberkati dan akhirnya memperoleh warisan ilahi. Kita tidak akan takut atau khawatir di dalam situasi hidup bagaimanapun, karena akar kita tertanam jauh di dalam Tuhan. Sebab, kita yang menjadikan Tuhan harapan kita, akan tumbuh subur seperti pohon yang selalu hijau, yang daunnya tidak layu. Kita akan tetap dalam kedamaian dan kepuasan pikiran; kita tidak akan kuatir dalam tahun kekeringan. Kita yang menjadikan Tuhan sebagai harapan kita, memiliki rasa cukup di dalam Tuhan untuk memenuhi kebutuhan semua kenyamanan kita. Kita tidak akan berhenti menghasilkan buah dalam kekudusan dan perbuatan baik. 

Sebaliknya, orang yang tidak mengandalkan Tuhan akan menjalani hidup yang seolah penuh hukuman (terkutuk). Bagaimana pun keadaan hidupnya, dia “tidak akan mengalami datangnya keadaan baik”. Orang itu kepercayaan berpusat pada diri sendiri dan sumber daya manusia pastilah akan kecewa, miskin rohani, dan akhirnya terhilang. Dia akan menjadi seperti padang gurun, pohon telanjang, semak belukar, produk dari tanah tandus, tidak berguna dan tidak berharga. Orang percaya pada kebenaran dan kekuatan mereka sendiri, dan berpikir bahwa mereka dapat melakukannya tanpa Yesus, menjadikan daging sebagai lengan mereka, dan jiwa mereka tidak dapat makmur dalam kasih karunia atau kenyamanan. Sebab, hati nuraninya, dalam keadaannyayang rusak dan jatuh, dia adalah penipu di atas segalanya. Maka ia menyebut kejahatan itu baik, dan kebaikan itu jahat; dan meneriakkan kedamaian bagi mereka yang bukan miliknya. Hati mereka sangat jahat; itu mematikan, itu putus asa. 

Oleh karena itu, marilah kita menjadi bijaksana dalam waktu; apa yang kita dapatkan, mari kita dapatkan dengan jujur; dan apa yang kita miliki, gunakanlah dengan murah hati, agar kita menjadi bijaksana untuk selama-lamanya, dan kita menjadi pribadi yang mengandalkan Tuhan di sepanjang hidup kita.

Sabtu, 01 Oktober 2016

Habakuk 2:1-4

Iman adalah percaya, takluk, bergantung, bahkan sekalipun situasinya tidak pasti. Iman juga adalah kesabaran, merespon janji TUHAN yang pasti dengan penuh harapan dan sukacita. 

Orang benar akan hidup oleh imannya, artinya Tuhan selalu bertindak adil ditengah rasa ketidakadilan yaitu dengan menjagai hati dan pikiran kita ketika kita berada di posisi yang ‘sudah sulit dan menjadi semakin sulit’. 

Kita tidak akan mudah goyah karena guncangan, justru guncangan itulah yang membuat akhirnya kita mampu tetap bertahan dan memenangkannya, maka apapun yang menjadi pergumulan hidup kita, berharaplah didalam iman, jawaban atas iman bukanlah secepat yang kita inginkan dan bukan pula selama yang kita harapkan, sebab jawaban Tuhan pasti menjadi kenyataan. 

Kita yang hidup dalam iman bukanlah tanpa kepastian, sekalipun kita berkeluh dan berlelah atas pergumulan hidup kita, karena Tuhan bekerja mendatangkan dan merancangkan yang terbaik bagi hidup orang percaya kepadaNya. 

Senin, 02 Maret 2015

Markus 8:31-38

Yesus Kristus datang ke dunia ini bukan untuk menyenangkan dan memuaskan keinginan manusia (Markus 8:31-38). Tetapi Yesus datang terutama untuk menyelesaikan masalah fundamental yang dihadapi manusia, yaitu dosa. Itu sebabnya Yesus melarang murid-murid-Nya memberitahu orang lain bahwa Dia adalah Mesias. Selain karena orang harus menemukan hal itu secara pribadi, juga agar orang tidak punya motivasi salah saat mengikut Yesus.

Sabtu, 01 Februari 2014

Mikha 6:8

Tuhan menginginkan kita meresponi-Nya dengan melakukan tiga kebajikan (Mikha 6:8), yaitu : Berlaku adil dalam berhubungan dengan sesama. 

Ada sesuatu dalam diri kita yang merindukan keadilan bagi orang lain serta bagi diri kita sendiri. Namun ada satu yang sepenuhnya berada di bawah kendali kita, yakni perlakuan kita terhadap orang lain. Sehingga, sebagai orang pengikut Yesus, kita mempunyai slogan, yaitu “biarlah keadilan kutegakkan” dan bukannya menuntut “tegakkan keadilan bagiku”. 

Mencintai kesetiaan adalah mengasihi dengan memperhatikan kebutuhan orang lain serta menolongnya, sebab orang-orang yang berjalan di jalan Tuhan, tidak menutup mata akan kebutuhan orang lain. 

Kerendahan hati di hadapan-Nya berarti menyerahkan kehendaknya dengan sukacita dibawah kehendak Tuhan. Kita menunjukkan kesetiaan, dan menegakkan keadilan demi Tuhan. 

Sebab, ada juga orang mencoba menjadi baik tanpa mengenal Tuhan. Tetapi juga tidak benar bila kita berkata bahwa kita mengenal Tuhan, padahal kita tidak mau berbuat baik. Jadi, kita berbuat baik, karena kita sudah menerima kebaikan Tuhan.

Rabu, 22 Januari 2014

Penderitaan yang berakhir

Kita pasti pernah mengalami pergumulan berat, yang membuat kita sampai bertekun dalam doa. Mungkin tatkala orang yang kita kasihi sedang sakit atau karena kesulitan ekonomi atau tidak sesuai dengan yang kita harapkan atau karena pernikahannya berkabut duka dan benci. 

Hana sedang mengalami pergumulan berat, sampai-sampai ia tidak bisa dihiburkan siapapun (1 Samuel 1:6-8). Di tengah kepedihan hati tiada tara, Hana mengadukan keadaannya kepada Tuhan. Hana tidak membeberkan sakit hatinya kepada Elkana atau marah kepada Penina, tetapi ia berseru kepada Tuhan. 

Sengsara itu dapat juga membuat orang mendekatkan diri pada Tuhan. Melalui doa yang dipanjatkan dengan hati yang hancur, Tuhan memakai Eli untuk menjawab pergumulan Hana. Hana terhibur karena ia tahu bahwa Tuhan mendengar dan menjawab doanya (1 Samuel 1:9-18). Janganlah tunggu persoalan datang baru kita mencari Tuhan. Marilah kita mencari kehendak Tuhan dan mengucap syukur atas semua hal yang Tuhan sudah lakukan dalam hidup kita dan Percayalah bahwa saat kita bersandar kepada Tuhan, Tuhan dapat diandalkan dan jawaban-Nya tidak mengecewakan!

Sabtu, 18 Januari 2014

menerangi kegelapan

Yesus Kristus telah merelakan diri-Nya menjadi hamba untuk menerangi kegelapan, kesuraman dan kekalutan. Kita juga diberkati Tuhan untuk menjadi hamba-Nya yang menuntun orang lain hidup dalam terang firman Tuhan (Yes.49:6b Aku akan membuat engkau menjadi terang bagi bangsa-bangsa supaya keselamatan yang dari pada-Ku sampai ke ujung bumi). Sehingga, ujian kehidupan yang tergelap sekalipun takkan mampu meredupkan terang kasih Tuhan yang kita beritakan. 

Sabtu, 11 Januari 2014

Taat dalam segala hal

Bisa saja kita tidak menaati Tuhan dalam hal tertentu seperti tidak berserah kepadaNya. Namun, Yesus menaati Bapa-Nya dalam segala hal (Mat.3:15). Penyerahan diri-Nya membawa-Nya dari puncak popularitas menuju keadaan ditinggalkan. Dari keadaan dielu-elukan orang menuju pada penderitaan dalam kesendirian. Hal itu membawa-Nya ke dalam ruang pengadilan Pilatus, jalan yang mengerikan menuju Kalvari, salib, dan kubur. 

Oleh karena itu, marilah kita dengan hati yang penuh kerelaan memutuskan untuk menaati Tuhan dalam segala hal. Sebab, iman sejati adalah taat kepada Tuhan.